June 15, 2013

Jantanisasi Ikan Nila Dengan 17 Alpha Methyl Testosteron

0 komentar


Masalah yang dihadapi dalam budidaya ikan nila adalah kemampuan reproduksi ikan yang tinggi dan sering terjadi inbreeding, artinya dalam waktu singkat jumlah ikan nila dalam kolam akan meningkat secara drastis, sehingga sukar dikendalikan. Akibatnya tingkat pertumbuhan ikan menjadi lambat sehingga diperlukan waktu yang lama untuk mencapai ukuran konsumsi, bahkan pertumbuhannya sering terhenti (stagnan). Berdasarkan pengalaman para pembudidaya nila, jika ikan nila dipelihara secara campur kelamin (polysex culture) maka ikan kelamin betina dengan ukuran 50 g/ekor sudah mulai memijah, sehingga pertumbuhan menjadi lambat bahkan terhenti karena energinya terkuras untuk memijah dan mengerami telur, padahal ukuran konsumsi atau siap jual adalah lebih dari 100 g/ekor. Salah satu cara baru untuk mengatasi masalah ini adalah dengan menjadikan ikan nila jantan semua (jantanisasi), metode yang dipakai adalah dengan menggunakan hormon 17 Alpha Methyl Testosteron yang berfungsi mengubah kelamin betina menjadi jantan (Sex-reversal).

Contoh strain unggul dari ikan nila monosex adalah nila GIFT (Genetic Improvement for Farmed Tilapia) merupakan jenis ikan nila yang telah terbukti memiliki keunggulan dalam pertumbuhan dan produktivitasnya di bandingkan dengan jenis ikan nila lain.

Langkah-langkah Jantanisasi

Siapkan pembenihan massal ikan nila secara terkontrol. Dengan membuat bak-bak beton, pemijahan dapat menjadi lebih mudah dan efesien karena biaya yang di butuhkan relatif lebih kecil dan dapat memproduksi larva dalam jumlah yang tidak berbeda di banding dengan kolam tradisional. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

Pertama. Siapkan kolam pemijahan. Usahakan dalam kolam pemijahan ini agar tidak tercampur dengan ikan jenis lain. Lebih baik jika pemijahan di lakukan dalam bak-bak beton karena sangat mudah pemijahannya dan mudah mengontrolnya.

Kedua. Siapkan induk nila yang unggul kualitasnya dengan bobot diatas 300 g/ekor. Perbandingan betina dan jantan adalah 3: 1 ( 3 betina 1 jantan), dengan kepadatan penebaran 6 ekor /m2. berilah pakan 3% dari berat total jumlah ikan /perhari dan pemberian pakan tiga kali sehari. Setiap 45 hari Induk nila akan menghasilkan telur yang matang. Setiap induk betina berukuran 300 gram dapat menghasilkan benih (larva) sebanyak 250-300 ekor larva. Jumlah larva akan terus meningkat sampai 900 ekor larva sesuai dengan pertambahan berat induk ikan nila 9000-1000 gram. Setelah satu siklus 45 hari pemijahan, induk betina di pisahkan dari induk jantan atau pindahkan induk jantan dari kolam itu selama lebih kurang satu bulan. Dan tetap berikan pakan dengan kandungan protein di atas 30 % kepada induk betina.

Setelah dua minggu massa pemeliharaan dalam kolam baru (jika induk betina yang di pindahkan) biasanya induk betina mulai ada yang bertelur, menghasilkan larva yang biasanya masih berada dalam pengasuhan induknya, atau terkadang di simpan dalam mulut induknya jika dalam kondisi terancam. Saat-saat inilah larva-larva di kumpulkan dengan cara di serok dengan kain kelambu yang halus dan kemudian di tampung dalam kelambu atau happa ukuran 2x0,9x0,9 m3. lakukan pengumpulan beberapa kali sehari.

Untuk mendapatkan benih ikan nila tunggal kelamin jantan atau monosexs. Maka di lakukan proses jantanisasi. Setelah larva sudah terkumpul dalam happa atau kelambu, kita akan memasuki proses mengubah larva betina menjadi jantan dan jantan tetap jantan. Larva akan di beri pakan berbentuk tepung yang sudah di campur dengan hormon 17 Alpa methyltestosteron selama 17 hari. Takaran mencampur hormon 17 Alpa methyltestosteron adalah sebagai berikut:

  • Ambil dan timbang hormon 17 Alpha methyltestosteron sebanyak 30 mg
  • Larutkan hormon yang sudah ditimbang dengan alkohol 95% sebanyak 15 ml
  • Campurkan larutan hormon tersebut dengan 1 kg pakan pelet ikan
  • Pakan berhormon diberikan empat kali sehari dengan dosis 10% dari total bobot populasi per happa, berikan pakan selama 21 hari
  • Pakan berhormon dapat disimpan dalam kantong plastik tertutup dan dimasukkan ke dalam lemari es. Pakan tahan hingga 2 bulan

Setelah selama 21 hari larva di beri pakan dengan hormon 17 Alpa methyltestosteron. Selanjutnya di pelihara dalam kolam pendederan. Sebelumnya kolam di keringkan selama dua minggu dan lumpurnya di aduk-aduk, beri kapur sebanyak 50 g/m2, dan di beri pupuk kotoran ayam sebanyak 250 g/m2. atau juga dengan melakukan pemupukan kolam dengan di beri pupuk Urea dan TSP masing-masing sebanyak 2,5 g/m2 dan 1,25 g/m2. setelah dua minggu pengeringan dan pemupukan, kolam di isi air sedikit saja kira-kira setinggi 50 cm dan biarlah tergenang air selama 3-7 hari. Setelah kolam di genang air masukkan benih ikan hasil jantanisasi dengan kepadatan 300 ekor/m2. berikan pakan biasa yang khusus untuk pakan ikan kecil, bukan pakan yang di campur hormon 17 Alpa methyltestosteron.

Siapkan kolam pembesaran dengan cara pemupukan seperti cara di atas. Setelah kolam siap pindahkan ikan-ikan dari kolam pendederan ke kolam pembesaran. Hasilnya adalah 93% ikan nila menjadi jantan.

Dalam tiga minggu atau 21 hari, ikan dengan berat rata-rata 1,25 gram atau panjang 3-5cm bisa di panen. Gunakan jaring halus pada penangkapan. Keringkan kolam sampai semua ikan terangkat. Dan proses budidaya dalam diulang kembali.

Tags:



Artikel Terkait :



Leave a Reply