ALT_IMG

Budidaya Ikan Kerapu

Di Indonesia terdapat tujuh jenis/genus ikan kerapu yaitu Aethaloperca, Anyperodon, Cephalopholis, Chromileptes, Epinephelus, Plectropomus, dan Variola. Dari ketujuh jenis tersebut hanya beberapa jenis saja yang mempunyai nilai komersial tinggi, yakni Chromileptes, Plectropomus, dan Epinephelus. Baca Selengkapnya...

ALT_IMG

Budidaya Ikan Lele

Budidaya ikan lele, baik dalam bentuk pembenihan maupun pembesaran mempunyai prospek yang cukup baik. Permintaan konsumen akan keberadaan ikan lele semakin meningkat. Dengan teknik pemeliharaan yang baik, maka akan diperoleh hasil budidaya yang memuaskan dan diminati konsumen. Baca Selengkapnya..

Alt img

Budidaya Belut

Seiring perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan di sektor perikanan, pemanfaatan lahan yang tidak luas dapat digunakan dalam aneka budidaya perikanan. Usaha perikanan yang dapat dilakukan di lahan sempit adalah Budidaya belut. Mengapa kita dapat membudidayakan belut dilahan sempit , karena kita akan menggunakan media drum atau tong dari besi atau plastik. Baca selengkapnya...

ALT_IMG

Budidaya Ikan Nila

Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan jenis ikan konsumsi air tawar dengan bentuk tubuh memanjang dan pipih kesamping dan warna putih kehitaman. Ikan nila berasal dari Sungai Nil dan danau-danau sekitarnya. Sekarang ikan ini telah tersebar ke negara-negara di lima benua yang beriklim tropis dan subtropis Baca Selengkapnya...

ALT_IMG

Budidaya Ikan Gurame

Budidaya Ikan Gurame (Osphronemus gouramy) Budidaya Ikan Gurame dapat dilakukan di berbagai model kolam, misalnya kolam semen, kolam tanah (empang), keramba, dan kolam terpal. Untuk pemeliharaan ikan gurame yang menggunakan kolam, pada semua model hampir sama cara pembuatan kolamnya dan cara pemeliharaannya. Baca Selengkapnya...

ALT_IMG

Budidaya Ikan kakap Putih

Ikan kakap putih adalah ikan yang mempunyai toleransi yang cukup besar terhadap kadar garam (Euryhaline) dan merupakan ikan katadromous (dibesarkan di air tawar dan kawin di air laut). Sifat-sifat inilah yang menyebabkan ikan kakap putih dapat dibudidayakan di laut, tambak maupun air tawar. Baca Selengkapnya...

ALT_IMG

Budidaya Ikan Mas Koki

Ikan Ikan mas Koki merupakan jenis ikan mas yang mempunyai bentuk tubuh bulat dengan kepala kecil dan ekor lebar, mempunyai bermacam varian ada yang berjambul ada yang tidak berjambul. Ikan ini berasal dari daratan cina, namun di Indonesia sudah lama dapat dibudidayakan. Baca Selengkapnya...

ALT_IMG

Budidaya Ikan Bawal Tawar

Ikan bawal tawar adalah salah satu jenis ikan air tawar yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Ikan jenis ini salah satu yang banyak dibudidayakan di Indonesia selain lele, nila, gurame, dan lain-lain. Selain relatif tidak terlalu sulit membudidayakannya, ikan bawal tawar termasuk ikan yang mudah beradaptasi. Baca Selengkapnya...

Alt img

Budidaya Ikan Arwana

Arwana adalah ikan hias termahal dan diakui sebagai salah satu ikan hias terindah di dunia. Ikan Arwana dapat mencapai umur antara 30-90 tahun di alam liar. Dari usaha budidaya ikan Arwana ini diharapkan dapat menjaga kelestarian populasi ikan ini, serta dari sisi bisnis dapat mendatangkan keuntungan yang menjanjikan. Baca selengkapnya...

Alt img

Budidaya Ikan Baronang

Ikan beronang dikenal oleh masyarakat dengan nama yang berbeda-beda satu sama lain seperti di Pulau Sribu dinamakan kea-kea, di Jawa Tengah dengan nama biawas dan nelayan-nelayan di Pulau Maluku menamakan dengan sebutan samadar. Ikan beronang termasuk famili Siginidae Baca selengkapnya...

Alt img

Budidaya Ikan Mas

Ikan mas (Cyprinus carpio L) merupakan jenis ikan konsumsi air tawar, berbadan pipih memanjang dengan tekstur daing yang lunak. Ikan mas sudah dikenal sejak tahun 475 sebelum masehi di Cina. Di Indonesia ikan mas mulai dibudidayakan sekitar tahun 1920. Baca selengkapnya...

Alt img

Budidaya Ikan Belida

Ikan Belida atau ikan pipih (Chitala lopis)merupakan jenis ikan sungai yang tergolong dalam suku Notopteridae (ikan berpunggung pisau). Belida sangat potensial untuk dikembangkan sebagai komoditas bisnis sebab mempunyai nilai ekonomi tinggi. Baca selengkapnya...

Alt img

Budidaya Azolla

Azolla microphylla adalah tumbuhan yang menakjubkan. Mengandung 25 – 35% protein, 10 – 15% mineral dan 7 – 10% asam amino, senyawa bioaktif dan biopolymer. Sementara kandungan karbohidrat dan lemak Azolla sangat rendah. Komposisi nutrisinya membuat Azolla sangat efisien dan efektif sebagai pakan ikan dan ternak.. Baca selengkapnya...

Alt img

Budidaya Ikan Gabus

Ikan ini memiliki banyak nama di berbagai daerah: bocek (riau), aruan atau haruan (Mly.,Bjn), kocolan (Btw.), bogo (Sd.), bayong, bogo, licingan (Bms.), kutuk (Jw), dan lain-lain. Gabus sangat potensial untuk dikembangkan sebagai komoditas bisnis sebab mempunyai nilai ekonomi tinggi. Baca selengkapnya...

Alt img

Budidaya Mentimun Laut

Teripang atau juga disebut mentimun laut, merupakan salah satu jenis komoditi laut yang bernilai ekonomi tinggi dan mempunyai prospek yang baik dipasaran domestik maupun internasional. Budi daya teripang khususnya teripang putih (Holothuria Scabra) memungkinkan dilakukan oleh masyarakat pantai karena teknik budidayanya cukup sederhana dan permodalan yang diperlukan relatif kecil. Baca selengkapnya...

Showing posts with label Ikan Kakap Putih. Show all posts
Showing posts with label Ikan Kakap Putih. Show all posts
April 21, 2012

Budidaya Ikan Kakap Putih di Keramba Jaring Apung

0 komentar
budidaya kakap putih

1. PENDAHULUAN

Indonesia memiliki potensi sumber daya perairan yang cukup besar untuk usaha budidaya ikan, namun usaha budidaya ikan kakap belum banyak dikembangkan, sedangkan di beberapa negara seperti: Malaysia, Thailand dan Singapura, usaha budidaya ikan kakap dalam jaring apung (floating net cage) di laut telah berkembang. Ikan Kakap Putih (Lates calcarifer, Bloch) atau lebih dikenal dengan nama seabass/Baramundi merupakan jenis ikan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi, baik untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri maupun ekspor. Produksi ikan kakap di indonesia sebagian besar masih dihasilkan dari penangkapan di laut, dan hanya beberapa saja diantarannya yang telah di hasilkan dari usah budidaya. Salah satu faktor selama ini yang menghambat perkembangan usaha budidaya ikan kakap di indonesia adalah masih sulitnya pengadaan benih secara kontinyu dalam jumlah yang cukup. Untuk mengatasi masalah benih, Balai Budidaya Laut Lampung bekerja sama dengan FAO/UNDP melalui Seafarming Development Project INS/81/008 dalam upaya untuk memproduksi benih kakap putih secara massal. Pada bulan April 1987 kakap putih telah berhasil dipijahkan dengan rangsangan hormon, namun demikian belum diikuti dengan keberhasilan dalam pemeliharaan larva. Baru pada awal 1989 kakap putih dengan sukses telah dapat dipelihara larvanya secara massal di hatchery Balai Budidaya Lampung. Dalam upaya pengembangan budidaya ikan kakap putih di indonesia, telah dikeluarkan Paket Teknologi Budidaya Kakap Putih di Karamba Jaring Apung melalui rekomendasi Ditjen Perikanan No. IK. 330/D2. 10876/93K, yang dilanjutkan dengan Pembuatan Petunjuk Teknis Paket Teknologi.

2. BIOLOGI

Ikan kakap putih adalah ikan yang mempunyai toleransi yang cukup besar terhadap kadar garam (Euryhaline) dan merupakan ikan katadromous (dibesarkan di air tawar dan kawin di air laut). Sifat-sifat inilah yang menyebabkan ikan kakap putih dapat dibudidayakan di laut, tambak maupun air tawar. Pada beberapa daerah di Indonesia ikan kakap putih dikenal dengan beberapa nama seperti: pelak, petakan, cabek, cabik (Jawa Tengah dan Jawa Timur), dubit tekong (Madura), talungtar, pica-pica, kaca-kaca (Sulawesi). Ikan kakap putih termasuk dalam famili Centroponidae, secara lengkap taksonominya adalah sbb:

Phillum : Chordata
Sub phillum : Vertebrata
Klas : Pisces
Subclas : Teleostei
Ordo : Percomorphi
Famili : Centroponidae
Genus : Lates
Species : Lates calcarifer (Block)

Ciri-ciri morfologis antara lain adalah:

  • Badan memanjang, gepeng dan batang sirip ekor lebar.
  • Pada waktu masih burayak (umur 1 ~ 3 bulan) warnanya gelap dan setelah menjadi gelondongan (umur 3 ~ 5 bulan) warnanya terang dengan bagian punggung berwarna coklat kebiru-biruan yang selanjutnya berubah menjadi keabu-abuan dengan sirip berwarna abu-abu gelap.
  • Mata berwarna merah cemerlang.
  • Mulut lebar, sedikit serong dengan geligi halus.
  • Bagian atas penutup insang terdapat lubang kuping bergerigi.
  • Sirip punggung berjari-jari keras 3 dan lemah 7 ~ 8. Sedangkan bentuk sirip ekor bulat.

3. PEMILIHAN LOKASI

Sebelum kegiatan budidaya dilakukan terlebih dahulu diadakan pemilihan lolkasi. Pemilihan lokasi yang tepat akan menentukan keberhasilan usaha budidaya ikan kakap putih. Secara umum lokasi yang baik untuk kegiatan usaha budidya ikan di laut adalah daerah perairan teluk, lagoon dan perairan pantai yang terletak diantara dua buah pulau (selat). Beberapa persyaratan teknis yang harus di penuhi untuk lokasi budidaya ikan kakap putih di laut adalah:

  • Perairan pantai/ laut yang terlindung dari angin dan gelombang
  • Kedalaman air yang baik untuk pertumbuhan ikan kakap putih berkisar antara 5 ~ 7 meter.
  • Pergerakan air yang cukup baik dengan kecepatan arus 20-40 cm/detik.
  • Kadar garam 27 ~ 32 ppt, suhu air 28 ~ 30 0 C dan oksigen terlarut 7 ~ 8 ppm
  • Benih mudah diperoleh.
  • Bebas dari pencemaran dan mudah dijangkau.
  • Tenaga kerja cukup tersedia dan terampil.

4. SARANA DAN ALAT BUDIDAYA

1. Sarana dan Alat

Pemeliharaan ikan kakap di laut umumnya dilakukan dalam keramba jaring apung (floating net cage) dengan metoda operasional secara mono kultur. Secara garis besar keramba jaring apung terdiri dari beberapa bagian yaitu:

a. Jaring

Jaring terbuat dari bahan:
  • Bahan: Jaring PE 210 D/18 dengan ukuran lebar mata 1 ~ 1,25”, guna untuk menjaga jangan sampai ada ikan peliharaan yang lolos keluar.
  • Ukuran: 3 m x 3 m x 3 m
  • 1 Unit Pembesaran: 6 jaring (4 terpasang dan 2 jaring cadangan)

b. Kerangka/Rakit

Kerangkan berfungsi sebagai tempat peletakan kurungan.

  • Bahan: Bambu atau kayu
  • Ukuran: 8 m x 8 m

c. Pelampung

Pelampung berpungsi untuk mengapungkan seluruh sarana budidaya atau barang lain yang diperlukan untuk kepentingan pengelolaan
  • Jenis: Drum (Volume 120 liter)
  • Jumlah: 9 buah.

d. Jangkar

Agar seluruh sarana budidaya tidak bergeser dari tempatnya akibat pengaruh angin, gelombang digunakan jangkar.
  • Jenis yang dipakai: Besi atau beton (40 kg).
  • Jumlah : 4 buah
  • Panjang tali : Minimal 1,5 kali ke dalam air

e. Ukuran benih yang akan Dipelihara: 50-75 gram/ekor

f. Pakan yang digunakan: ikan rucah

g. Perahu : Jukung

h. Peralatan lain : ember,serok ikan, keranjang, gunting dll

i. Konstruksi wadah pemeliharaan

Perakitan karamba jaring bisa dilakukan di darat dengan terlebih dahulu dilakukan pembuatan kerangka rakit sesuai dengan ukuran yang telah ditentukan. Kerangka ditempatkan di lokasi budidaya yang telah direntukan dan agar tetap pada tempatnya (tidak terbawa arus) diberi jangkar sebanyak 4 buah.Jaring apung apa yang telah dibuat berbentuk bujur sangkar pada kerangka rakit dengan cara mengikat keempat sudut kerangka.

5. OPERASIONAL BUDIDAYA

1. Metode Pemeliharaan

Benih ikan yang sudah mencapai ukuran 50-70 gram/ekor dari hasil pendederan atau hatchery, selanjutnya dipelikara dalam kurungan yang telah disiapkan. Penebaran benih ke dalam karamba/jaring apung dilakukan pada kegiatan sore hari dengan adaptasi terlebih dahulu. Padat penebaran yang ditetapkan adalah 50 ekor/m 3 volume air. Pemberian pakan dilakukan 2 kali sehari pada pagi dan sore hari dengan takaran pakan 8-10% botol total badan perhari. Jenis pakan yang diberikan adalah ikan rucah (trash fish). Konversi pakan yang digunakan adlah 6:1 dalam arti untuk menghasilkan 1 kg daging diperlukan pakan 6 kg. Selama periode pemeliharan yaitu 5-6 bulan, dilakukan pembersihan kotoran yang menempel pada jaring, yang disebabkan oleh teritif, algae, kerang-kerangan dll. Penempelan organisme sangat menggangu pertukaran air dan menyebabkan kurungan bertambah berat. Pembersihan kotoran dilakukan secara periodik paing sedikit 1 bulan sekali dilakukan secara berkala atau bisa juga tergantung kepada banyak sedikitnya organisme yang menempel. Penempelan oleh algae dapat ditanggulangi dengan memasukkan beberapa ekor ikan herbivora (Siganus sp.) ke dalam kurungan agar dapat memakan algae tersebut. Pembersihan kurungan dapat dilakukan dengan cara menyikat atau menyemprot dengan air bertekanan tinggi. Selain pengelolaan terhadap sarana /jaring, pengelolaan terhadap ikan peliharaan juga termasuk kegiatan pemeliharaan yang harus dilakukan. Setiap hari dilakukan pengontrolan terhadap ikan peliharaan secara berkala, guna untuk menghindari sifat kanibalisme atau kerusakan fisik pada ikan. Disamping itu juga untuk menghindari terjadinya pertumbuhan yang tidak seragam karena adanya persaingan dalam mendapatkan makanan. Penggolongan ukuran (grading) harus dilakukan bila dari hasil pengontrolan terlihat ukuran ikan yang tidak seragam. Dalam melakukan pengontrolan, perlu dihindari jangan sampai terjadi stress.

2. Panen

Lama pemeliharan mulai dari awal penebaran sampai mencapai ukuran ± 500 gram/ekor diperlikan waktu 5-6 bulan. Dengan tingkat kelulusan hidup/survival rate sebesar 90% akan didapat produksi sebesar 2.250 kg/unit/periode budidaya. Pemanenan dilakukan dengan cara mengangkat jaring keluar rakit, kemudian dilakukan penyerokan.

3. Penyakit

Publikasi tentang penyakit yang menyerang ikan-ikan yang dibudidayakan di laut seperti ikan kakap putih belum banyak dijumpai. Ikan kakap putih ini termasuk diantara jenis-jenis ikan teleostei. Ikan jenis ini sering kali diserang virus, bakteri dan jamur. Gejala-gejala ikan yang terserang penyakit antara lain adalah, kurang nafsu makan, kelainan tingkah laku, kelainan bentuk tubuh dll. Tindakan yang dapat dilakukan dalam mengantisipasi penyakit ini adalah:

  • menghentikan pemberian pakan terhadap ikan dan menggantinya dengan jenis yang lain>/li>
  • memisahkan ikan yang terserang penyakit, serta mengurangi kepadatan

  • memberikan obat sesuai dengan dosis yang telah ditentukan.
6. DAFTAR PUSTAKA 1. Anomius. 1990. “Perkembangan Rekayasa Teknologi Pembenihan Kakap Putih (Lates calcarifer, Bloch) di Balai Budidaya Laut Lampung”, Ditjen Perikanan, Lampung. 2. Anomius, 1992. Buletin Budidaya Laut seri 5 & 6. BBL Lampung, Ditjen Perikanan, Lampung. 3. Anomius, 1990/1991. Usaha Penanggulangan Serangan Penyakit pada Usaha Budidaya Laut/Rumput Laut, Ditjen Perikanan, Jakarta 4. Djamali, M. A., Hutomo Burhanuddin dkk, 1986 “Sumber daya ikan kakap (Lates calcalifer) dan Bambangan (Lujtanus spp) di Indonesia”. LON LIPI, 5. Hardjono, 1987. Biologi dan Budidaya Kakap Putih (Lates calcarifer) INFISH Manual seri No. 47. Ditjen Perikanan-International Development Research Centre. Jakarta. Sumber literatur : Paket Teknologi Pembesaran Ikan Kakap Putih ( Lates calcarifer, Bloch) di Keramba Jaring Apung, Direktorat Jenderal Perikanan, Departemen Pertanian, 1994.
Baca Selengkapnya... →
April 13, 2012

Usaha Pembenihan Ikan Kakap Putih Skala Kecil | Hatcheri

0 komentar
pembenihan kakap putih

Hatcheri adalah pemeliharaan larva dan pendederan untuk produksi benih.

Ikan kakap putih (Lates calcarifer) merupakan jenis ikan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi, baik untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri maupun luar negeri. Pada mulanya produksi kakap putih diperoleh dari hasil sampingan dari budidaya di tambak, namun sekarang ikan ini sudah khusus dibudidayakan pada kurungan apung di laut. Permasalahan utama dalam budidaya adalah terbatasnya benih yang tersedia baik dalam jumlah dan mutu secara terus menerus dan berkesinambungan.

Pembenihan kakap putih skala besar yang dikelola oleh swasta sampai saat ini belum ada, maka dari itu pembenihan kakap putih skala rumah tangga (HSRT-Hatchery-Skala Rumah Tangga) perlu dikembangkan karena mempunyai prospek yang cerah. Pada prinsipnya HSRT udang dapat dikembangkan menjadi HSRT kakap putih mengingat sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk pembenihan kakap putih tidak jauh berbeda dengan pembenihan udang. Dengan demikian apabila dilakukan diversifikasi usaha untuk perkembangan dan kesinambungan budidaya komoditas yang bersangkutan juga untuk memberi keluwesan berusaha sehingga modal yang sudah ditanam dapat terus berputar.

KRITERIA

Kriteria HSRT kakap putih yaitu :

1. Sebagai uasaha sampingan keluarga dengan memanfaatkan rumah menjadi lokasi usaha dan anggota keluarga sebagai tenaga pelaksana (pekerja).
2. Peralatan yang digunakan mencerminkan kesederhanaan sehingga memberikan kesan mudah diikuti baik dari segi investasi maupun operasional.
3. Dalam operasionalnya dilakukan sedemikian rupa sehingga penggunaan pompa air laut seminimal mungkin, sehingga dapat menghemat penggunaan
listrik yang pada gilirannya dapat menekan ongkos produksi.
4. Melaksanakan kegiatan usaha yang terbatas mesalnya pemeliharaan larva dari telur hingga D20 s/d D25 atau D1/D2 hingga D20/D25.
5. Melaksanakan investasi relatif kecil sehingga mudah diikuti oleh masyarakat luas.
6. Dengan kesederhanaan sarananya, sebagian input produksinya seperti telur kakap putih, algae (fitoplankton) dan ritefer (zooplankton) bergantung pada
pembenihan lain.
7. Jumlah unit bak pemeliharaan larva per kepala keluarga disarankan lebih kecil atau sama dengan tiga buah. Karena semakin besar jumlah bak semakin banyak konsentrasi terpecah dan harus semakin lengkap sarana yang dibutuhkan. Ukuran bak disesuaikan dengan kemampuan dan luas lahan, disarankan ukuran bak minimal 10 m³ .

MANFAAT

Usah pembenihan kakap putih skala rumah tangga diharapkan dapat memberikan manfaat antara lain :

1. Membantu memecahkan kesulitan petani kurung apung yang selalu kekurangan benih pada waktu musim tanam.
2. Menyediakan kakap putih dengan harga yang lebih rendah dengan kualitas yang baik sehingga meningkatkan daya saing kakap putih Indonesia di pasaran internasional.
3. Memanfaatkan tanah pekarangan sekaligus meningkatkan pendapatan keluarga, terutama yang bertempat tingga di daerah pantai.
4. Menciptakan lapangan kerja.
5. Mendukung program nasional "Meningkatkan Ekspor Non Migas" melaui pengadaan salah satu komponen produksi dalam sistim budidaya kakap putih.
6. Membantu penyediaan benih untuk petani ikan di kurung apung dengan memberikan kesempatan dan mendidik mereka untuk menghasilkan benih
sendiri.

PERSYARATAN LOKASI

Keberhasilan dalam operasional pembenihan kakap putih sangat tergantung pada lokasi yang tepat, hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan pemilihan lokasi adalah sebagai berikut :

1. Sumber Air Laut

Sumber air laut yang dipergunakan untuk pembenihan harus bersih dan jernih sepanjang tahun, perubahan salinitas relatif kecil. Lokasi yang sesuai biasanya di teluk yang terlindung dari gelombang/arus kuat dan terletak di lingkungan pantai yang berkarang dan berpasir. Lokasi juga harus jauh dari buangan sampah pertanian dan industri. Persyaratan teknis kimia dan fisika yang memenuhi syarat adalah sebagai berikut :

o Salinitas : 28 - 35
o pH : 7,8 - 8,3
o Alkalinitas : 33 - 60 ppm
o Bahan organik : < 10 ppm o Amoniak : < 2 ppm o Nitrit : < 1 ppm o Suhu : 30 - 33°C o Kejernihan : maksimum 2. Kemudahan

Lokasi harus terletak pada jarak kurang dari 3 jam perjalanan dari lokasi induk matang telur, 12 jam dari lokasi pemasok telur/larva D1 dan tidak lebih dari 12 jam perjalanan ke lokasi pemasaran.

3. Sumber Air Tawar

Air tawar dibutuhkan untuk menurunkan salinitas air laut yang diperlukan sesuai dengan kebutuhan. Selain itu air tawar juga digunakan untuk mencuci bak dan peralatan pembenihan lainnya agar tidak mudah berkarat.

4. Sumber Listrik

Pembenihan tidak dapat dioprasikan tanpa listrik. Listrik sangat penting sebagai sumber tenaga untuk menjalankan peralatan pembenihan seperti blower, pompa air dan sistim penunjang lainnya. Pemasangan generator mutlak diperlukan terutama untuk daerah yang sering tejadi pemadaman aliran listrik.

5. Topography

Lokasi pembenihan harus terletak pada daerah bebas banjir, ombak dan pasang laut. Lokasi tersebut juga harus terdiri dari tanah yang padat/kompak. Walaupun pembenihan skala rumah tangga secara keseluruhan berskala kecil, namun bak pemeliharaan larva tetap bertonase besar sehingga tanah dasar haruslah dipilih yang cukup stabil, misalnya menghindari bekas timbunan sampah agar kekuatan bak terjamin.

FASILITAS DAN DISAIN HSRT KAKAP PUTIH

1. Fasilitas

Fasilitas yang diperlukan dalam unit pembenihan kakap putih skala kecil cukup sederhana yaitu pompa, bak penampungan air tawar dan air laut, bak pakan alami, bak pemeliharaan larva dan bak penetasan artemia, aerator/blower dan perlengkapannya serta peralatan lapangan sebagai penunjangnya.

1. Pompa

Pompa diperlukan untuk mendapatkan air laut maupun air tawar. Apabila air laut relatif bersih dapat langsung dipompakan ke bak penyaringan dan disimpan dalam bak penampungan air. Jika sumber air laut relatif keruh dan banyak mengandung partikel lumpur, maka air laut di sedimentasikan dalam bak pengendapan, selanjutnya bagian permukaan air yang relatif jernih di pompa ke bak penyairngan, spesifikasi pomapa hendaknya dipilih dengan baik karena ukuran pompa tergantung pada jumlah air yang diperlukan persatuan waktu, disarankan untuk HSRT dengan kapasitas 3 bak pemeliharaan larva masing-masing dengan kapasitas 10 m 3 air, ukuran pompa 1,5 inci.

2. Bak Penampungan Air Tawar dan Air Laut

Bak penampungan air dibangun pada ketinggian sedemikian rupa sehingga air dapat didistribusikan secara gravitasi ke dalam bak-bak dan sarana lainnya yang memerlukan air (laut, tawar bersih). Bak terbuat dari semen dan sebaiknya volume bak minimal sama dengan volume bak pemeliharaan larva. Bila tidak ada bak penampungan khusus dapat mengunakan bak pemeliharaan larva yang difungsikan sebagai bak penampungan air, kemudian dialirkan dengan menggunakan pompa submarsibel.

3. Bak Pemeliharaan larva

Bak pemeliharaan larva dapat terbuat dari semen, fiber glass atau konsstruksi kayu yang dilapisi plastik, masing-masing bahan mempunyai kelebihan dan kekurangan. Ukuran bak dapat dibuat sesuai dengan kemampuan dan target produksi yang ingin dicapai, tetapi disarankan kapasitas/volumenya minimal 10 m 3 karena bak dengan volume yang lebih kecil stabilitas suhunya kurang terjamin. Tinggi bak antara 1,2 - 1,5 m, bak yang terlalu tinggi akan meyulitkan dalam pengelolaan sehari-hari. Bentuk bak bisa bulat atau segi empat. Tergantung besarnya dana dan selera. Yang harus diperhatikan dalam hal bentuk dan ukuran bak adalah tidak menyulitkan dalam pengelolaan sehari-hari juga memudahkan sirkulasi air. Bak dengan bentuk bulat, saluran pembuangannya terletak di tengah dengan dasar miring (kemiringan 5%) ke tengah (ke saluran pembuangan). Pada saluran pembuangan dapat dipasang pipa tegak untuk mengatur dan mengontrol ketinggian air (Gambar 1).

bak pemeliharaan larva kakap putih

Gambar 1. Desain bak pemeliharaan larva bentuk bulat


4. Bak segi empat sebaiknya berbentuk memanjang untuk memudahkan pergantian air dan pada sudut-sudutnya tidak boleh mempunyai sudut mati (sudut yang tajam). Sudut yang tajam akan meyebabkan sirkulasi air tidak sempurna sehingga sisa metabolit dan kotoran lain terkumpul pada sudut bak, disamping itu sudut yang tajam juga akan menyulitkan dalam pembersihan bak. Pada bak dalam bentuk segi empat saluran pemasukan dan pembuangan air diletakkan pada sisi yang berlawanan, pada saluran pembuangan dapat dipasang pipa tegak (pipa goyang) untuk mengatur dan mengontrol ketinggian air. Dasar bak dibuat miring dengan kemiringan 5% agar memudahkan dalam pembersihan bak. Selain itu dinding dan dasar bak harus halus agar tidak mudah ditempeli kotoran, jamur dan parasit serta tidak menyulitkan dalam pembersihan bak.

Photobucket

Gambar 2. Bak pembuangan


5. Untuk keperluan pemanenan benih, baik pada bak bentuk bulat maupun bentuk segi empat pada ujung saluran pembuangannya dilengkapi dengan bak berukuran kecil untuk menempung benih yang akan dipanen. Bak pemeliharaan larva memerlukan penutup di atasnya untuk mencegah masuknya kotoran dan benda asing yang tidak dikehendaki serta melindungi bak pemeliharaan dari air hujan. Tutup bak dapat terbuat dari plastik dan sebaiknya berwarna gelap untuk melindungi air/media pemeliharaan larva dari penyinaran matahari yang berlebihan, sehingga mencegah terjadinya blooming plankton pada medium air pemeliharaan larva. Selain itu penutup bak juga dapat mencegah terjadinya fluktuasi suhu yang terlalu tinggi serta dapat menaikkan suhu pada bak pemeliharaan larva.

6. Bak Kultur Plankton

Plankton (fito dan zooplankton) mutlak diperlukan sebagai pakan bagi pemeliharaan larva kakap putih yaitu saat larva mulai mengambil/membutuhkan makanan dari lingkungannya karena cadangan makanannya yang berupa kuning telur sudah habis. Selain sebagai pakan alami, fitoplankton juga berfungsi sebagai pengendali kualitas air dan pakan bagi kultur zooplankton/rotifer. Bak untuk kultur plankton dapat dibuat dengan konstruksi kayu yang dilapisi plastik, karena volume yang dibutuhkan tidak terlalu besar. Ukuran bak cukup 2 x 2 x 0,6 meter masing-masing 4 buah untuk kultur

fitoplankton dan 4 buah lagi untuk kultur zooplankton (masing-masing bak kultur plankton termasuk bak cadangan). Jumlah dan ukuran bak kultur
plankton sebesar itu cukup untuk menyediakan pakan alami satu sikles pemeliharaan (3 bak pemeliharaan larva dengan kapasitas 10 m 3 ).

7. Bak Penetasan Artemia

Makanan alami lain yang dibutuhkan bagi kehidupan larva adalah Artemia salina. Artemia yang beredar di pasaran umum adalah berupa cyste atau
telur, sehinga untuk memperoleh naupli artemia yang siap diberikan pada larva sebagai makanan harus ditetaskan terlebih dahulu. Untuk memperoleh naupli, cyste dapat langsung ditetaskan atau didekapsulasi dahulu sebelum ditetaskan. Bak penetasan artemia dapat terbuat dari fiber glass atau plastik berbentuk kerucut yang pada bagian ujung kerucutnya dilengkapi stop kran untuk pemanenan naupli artemia. Bentuk kerucut merupakan alternatif terbaik karena hanya dengan satu batu aerasi di dasar kerucut dapat mengaduk seluruh air di dalam bak penetasan secara merata, sehinga cyste dapat menetas dengan baik karena tidak ada yang mengendap atau melekat di dasar bak. Volume bak penetasan sebaiknya minimal 25 - 30 liter untuk menetaskan cyste artemia sebanyak 150 - 200 gram.

8. Aerator

Larva memerlukan oksigen terlarut dalam air untuk proses metabolisme dalam tubuhnya, selain itu gelembung udara yan dihasilkan oleh aerator dapat mempercepat proses penguapan berbagai gas beracun dari medium air pemeliharaan larva. Selain pertimbangan harga, aerator sebaiknya bentuk dan ukurannya kecil, kekuatan tekanannya cukup besar (sampai kedalaman 1 - 1,2 m) serta kebutuhan listriknya kecil. Perlengkapan lain dari aerator adalah batu aerasi, slang aerasi dan penatur aerasi untuk mengatur tekanan udara.

2. 2) Peralatan Lapangan

Untuk menunjang pengelolaan pembenihan sehari-hari diperlukan beberapa ember plastik, antara lain untuk menampung makanan sebelum diberikan ke larva, ember panen untuk menampung dan menghitung benih serta ember untuk menyaring air saat disiphon. Peralatan lain adalah gayung untuk menebarkan pakan, blender untuk mengaduk dan menghaluskan pakan buatan bila diperlukan, saringan pakan (plankton net) berbagai ukuran sesuai dengan lebar bukaan mulut larva serta slang air dari berbagai ukuran sesuai kebutuhan.

3. 3) Desain HSRT

Tata letak semua fasilitas HSRT harus diatur sedemikian rupa secara matang dan menunjukan dimensi yang tepat sehinga lahan dan fasilitas yang tersedia dapat digunakan seefisien mungkin, yang pada gilirannya dapat memudahkan pekerjaan sehari-hari dan menekan biaya operasional. Salah satu contoh tata letak fasilitas HSRT disarankan seperti dalam gambar 3.

Photobucket

Gambar 3. Desain HSRT


TEKNIK PEMELIHARAAN

1. Pemeliharaan Larva

Sebelum larva dipindahkan (kira-kira 1 - 2 hari sebelumnya), bak pemeliharaan larva harus dicuci dengan air tawar dan disikat lalu dikeringkan selama 1 - 2 hari. Membersihkan bak dapat juga dilakukan dengan cara membilaskan larutan sodium hypokhlorine 150 ppm pada dinding bak, selanjutnya dikeringkan selama 2 - 3 jam untuk menghilangkan chlorine yang bersifat racun. Air media pemeliharaan larva yang bebas dari pencemaran dengan suhu 26 - 28 0 C dan salinitas 29 - 32 ppt diisikan ke dalam bak dengan cara disaring dengan penyaring pasir atau kain penyaring untuk menghindari kotoran yang terbawa air laut. Untuk mensuplai oksigen bak dilengkapi sistim aerasi dan batu aerasi yang diletakkan secara terpencar agar merata keseluruhan air di dalam bak. Larva yang baru menetas mempunyai panjang total 1,21 - 1,65 mm, melayang dipermukaan air dan berkelompok dekat aerasi. Umur 30 hari larva ditempatkan di dalam bak yang terlindung dari pengaruh langsung sinar matahari (semi out door tanks). Padat penebaran awal dalam bak pemeliharaan adalah 70 - 80 larva/liter volume air. Pada hari 8 - 15 tingkat kepadatan dikurangi menjadi 30 - 40 larva/liter, setelah hari ke 16 kepadatan larva diturunkan menjadi 20 - 30 larva/liter, karena pada umur ini larva sudah menunjukan perbedaan ukuran dan sifat kanibalisme. Tingkat kepadatan larva pada masing-masing tingkatan umur dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1. Padat Penebaran Larva Kakap Putih yang Dipelihara Sampai Umur 30 Hari.

Umur larva (hari) Jumlah larva/liter
1 - 7 70 - 80
8 - 15 30 - 40
16 - 23 20 - 30

2. Pemberian Pakan Alami

Sejak pertama larva sudah harus diberi Chlorella dan Tetraselmis, selain sebagai pakan larva, berfungsi pula sebagai pengendali kualitas air dan pakan Rotifer. Padat penebaran untuk Tetraselmis adalah 8 - 10 x 1000 sel/ml sedangkan untuk Chlorella adalah 3 - 4 x 10.000 sel/ml. Umur 2 hari, larva sudah mulai membuka mulut, pada saat ini hingga hari ke 7 ke dalam bak ditambahkan Rotifera (Brachionus plicatilis) dengan padat penebaran 5-7 individu/ml. Pada hari ke 8 sampai hari ke 14 pemberian Rotifera ditingkatkan jumlahnya menjadi 8 - 15 individu/ml. Pada umur 15 hari larva mulai diberi pakan Artemia dengan kepadatan 11 - 2 individu/ml. Setelah berumur 30 hari, dengan panjang badan 12 - 15 mm larva sudah dapat memakan cacahan daging segar, adapun jenis dan jumlah pakan yang diberikan pada larva kakap putih dapat dilihat pada tabel 2.

Tabel 2. Jenis dan jumlah pakan yang diberikan pada larva kakap putih.

Jenis Pakan Jumlah Pakan Umur (hari) Frekuensi (kali/hari)
Alga bersel satu :
- Tetraselmis sp
- Chlorella sp
8 - 10 - 1000 sel/ml
3 - 4 x 10.000 sel/ml
1 - 14
1 - 14
1
1
Rotefera :
Bractionus sp
Nauplii Artemia
5 - 7 individu/ml
8 - 15 individu/ml
2 - 3 individu/ml
3 - 7
8 - 14
15 - 20
4
4
2 - 3
Cacahan daging ikan sesuai kebutuhan 20 >

3. 3) Pengelolaan Air

Pengelolaan air yang baik dapat memberikan pertumbuhan larva yang cepat dengan tingkat keluluran hidup (survival rate) lebih tinggi. Dalam hal ini yang terpenting adalah agar selalu mempertahankan lingkungan yang optimal untuk pertumbuhan dan kehidupan larva. Disamping itu perubahan yang bersifat mendadak atau lingkungan yang tidak mendukung akan mengakibatkan kematian larva, untuk menekan tingkat kematian disamping perlu diperhatikan masalah sanitasi dan pengaturan pakan yang seksama perlu diperhatikan pengelolaan air yang baik. Pada pemeliharaan larva kakap putih penggantian air dilakukan mulai pada hari ke 13 sebanyak 10 - 20% hari sampai hari ke 14. Pada hari ke 15 sampai hari ke 25 penggantian air sebanyak 30 - 40%, dilakukan secara penyiponan.

PENGGOLONGAN UKURAN (Grading)

Pemeliharaan larva kakap putih dalam lingkungan terbatas denan persaingan pakan dan ruangan akan mengakibatkan pertumbuhan yang tidak merata. Penggolongan ukuran (grading) dimaksudkan untuk mencegah saling memakan sesama larva (kanibalisme), oleh karena ikan kakap putih mempunyai sifat karnifor (ikan pemangsa). Sifat kanibal pada larva kakap putih akan semakin kelihatan saat mulai makan artemia (± 10 hari). Wadah yang digunakan untuk penggolongan ukuran terbuat dari plastik yang dilubangi dinding-dindingnya dengan ukuran tertentu pula, ukuran lubang bervareasi antara 2,5 - 10 mm.

Penggolongan ukuran dilakukan dengan cara memasukkan baskom plastik ke dalam bak pemeliharaan di atas aerasi, agar ikan yang ukuran lebih kecil dari lubang dapat lolos dan larva yang lebih besar tidak dapat lolos, selanjutnya larva yang ukurannya lebih besar dipisahkan dan dilakukan lagi pengolongan ukuran dengan menggunakan baskom yang mempunyai lubang ukuran lebih besar. Cara ini akan memisahkan ikan ke dalam beberapa ukuran tertentu dan mempermudah pengelolaannya. Penggolongan ukuran dilakukan dua kali yaitu penggolongan pertama pada hari ke 10-14 dan penggolongan kedua pada hari ke 20 - 25. Ukuran lubang bervareasi antara 2,5 - 10 mm.

PANEN

Cara panen tergantung dari bentuk dan kapasitas pemeliharaan untuk bak yang memiliki saluran keluar akan lebih mudah dilakukan dengan menempatkan arus air keluar. Sedangkan yang tanpa saluran keluar, panen dilakukan dengan cara mengurangi air pada bak pemeliharaan sampai kedalaman tinggal 10 - 20 cm, kemudian benih ditangkap dengan scopnet. Agar larva kakap putih tidak mengalami stress pada saat panen, dilakukan secara hati-hati dan pada penampungan sementara diberi aerasi secukupnya.
Baca Selengkapnya... →